TAKLID BUTA


                                                                  TAKLID BUTA

Dalam sebuah Seminar Nasional seorang cendikiawan menyatakan kepada para mahasiswa, “ anda telah memasuki Intellectual Community, masyarakat intelektual, kaum terpelajar. Dan ini amanah Allah !” dalam negara berkembang intellectual community masih kecil kuantitasnya, sangat elit. Dengan tidak memperhatikan pandangan elitisme, kedudukan mahasiswa sebagai intelektual mengimplikasikan amanat yang direfleksikan oleh pertanyaan khitobi (rethoric) pada az-zumar 39:9. Orang terpelajar (berilmu) tidak sama dengan orang yang tidak terpelajar.

Diantara ciri ciri yang sangat mencolok dari masyarakat terpelajar  terkadang disebut sebagai ulul albab yaitu senang  mendengarkan perkataan, pendapat, ide dan pikiran (yastamiun al-qawla) kemudian mengikuti yang terbaik (yattabi’una ahsanah). Pada Az-Zumar 39;8 ini, dijelaskan adanya proses internalisasi secara kritis dan dinamis. Dimulai dengan mendengar dan atau melihat kemudian menimbang dengan kejernihan jiwa dan hati. Lalu merekam yang baik dan mencampakkan yang buruk, sehingga yang tersaring hanyalah kebaikan pikir dan zikir untuk menggerakan jawarih mengapresiasikan kebaikan. Hal ini karena pendengaran (al-sam’u), penglihatan (al- basharu), dan naruni (al-fuadu) sebagai sarana vital dalam transformasi ilmu ke dalam diri manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas fungsi masing masing. Maka orang yang mampu mentrasnfer pengetahuan dan mengamalkannya dengan penuh kesadaran (ala bashiroh) akan berbeda dengan orang yang melakukannya dengan taklid atau secara membabi buta sebagai ciri kebodohan, kejumudan , dan kemunafikan.

Sebagai ilustrasi tentang taklid seorang ahli hikayat bercerita. Seorang pedagang mengangkat dua jenis komoditi garam dan bunga karang dengan menggunakan dua ekor keledai untuk masing masing barang. Sesampai disungai keledai pembawa garam turun minum. Diluar dugaannya beban dipunggung terasa ringan karena garam itu mencair di dalam sungai. Ia keluar jingkrak jingkrak dan meringik kegirangan. “ada apa denganmu sehingga tampak riang setelah sedih dan berang?” tanya temannya. “saat turun minum di dalam sungai tak kurasa ternyata garam yang membebani punggungku mencair sedikit demi sedikit maka aku tunggu beberapa saat higga larut seluruhnya!” tutur keledai bangga. Mendengar berita gembira itu sang kawan berambisi mengikuti rekanya.
Benar. Pada sungai berikutnya keledao pembawa bunga karanggg bergegas memasuki sungai untuk minum dan mencairkan beban bawaannya. Nah, apa yang terjadi? Keldai itu meringis, mengaduh dan mengumpat apa saja dan asiapa saja termasuk diri sendiri karena beban dipunggungnya semakin berat.

Melihat peristiwa  mengenaskan itu sang pedagang malah mencibir, “ wahai so bodoh bin tolol! Mengertilah. Tidak semua yang baik dan cocok untuk seseorang pasti harus cocok untuk lainya. Sesungguhnya meniru tanpa petunjuk adalah kesesatan dan kepandiran. Berapa banyak anak adam berbuat sepertimu meniru sesuatu yang membahayakan tanpa mengerti akibatnya yang fatal.
Meniru tanpa petunjuk sama dengan taklid buta yaitu meniru perbuatan tanpa mengerti hakikatnya, tanpa menimbang baik buruknya, seorang ulama menyebut dengan buta tuli ( shumman wa umyan) bagi orang yang memutuskan suatu pekerjaan dengan tidak menimbangnya terlebih dahulu.
Dalam disiplin ilmu ushul fiqh terdapat istilah taklid yang berarti mengambil pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya. Fenomena taklid dan bermadzhab tertentu yang muncul di awal keempat hijriyah ini sebenarnya tidak dikehnedaki dan direstui oleh para imam madzhab sendiri. Namun realisasinya terus merebak dikalangan muslim in bahkan menjadi sebuah budaya dan hukum yang tabu ditinggalkan.

Menurut kebanyakan ulama, terdapat perbedaan antara taklid dan ittiba’ karena yang terakhir mengikuti jalan orang lain secara kreatif dengan mengetahui petunjuk (dalil) terdapat banyak ayat al-qur’an yang mencela taklid dan akibatnya buruk seperti dalam at-taubah 9;31 dan Al-Baqoroh 2;167. Maka tak heran taklid akhirnya menjadi maslah krusial dalam dunia ilmu dan pengetahuan serta dalam dunia praktis.

Yang jelas, agar tidak disamakan dengan keledai (himar) seperti yang diceritakan oleh sahibul hikayat di atas, alangkah baiknya kita menghindari  perilaku dan tindaknnya. Jika tidak, maka jangan terkejut saat orang mesir memaki maki anda dengan sebutan “humar” di negara piramid ini sering dilontarkan kepada siapa saja yang anti kemapanan, berbuat kebodohan, atau bertindak amoralis tanpa pandang bulu atau status sosial. Sopir taksi, mahasiswa, polisi, selebritis, menteri, bahkan presiden sekalipun bisa menjadi objek makian ini. Entah kenapa, karen ajenis  fauna ini disebut dalam al-qur’an sebagai perumpamaan bagi orang orang yang dibebankan taurat (diberati, supaya mengamalkan isinya) kemudian tidak  memikulnya (mengikuti perintahnya) ataukan karena ada backraound sosio-kultural  lain yang justru kontra produktif dengan keislaman?

Dan yang lebih penting lagi bukan menghindari makian “humar”an sich tetapi  melakukan proses internalisasi dan ilmu pengetahuan secara kontinyu sehingga menjadi tradisi intelektual secara umum. Disini tampak pekerjaan membaca harus dibudayakan sebagai nuqthat al-intilaq menuju produktifitas imaniah, ilmiah, dan amanah. Nabi Muhammad SAW yang telah sampai ke  sidratul muntaha” masih senantiasa diperintah Allah menimba ilmu apalagi sebagai qiyas awlawiy, para umat beliau, bukankan begitu?
   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SAHABAT TERBAIK