SEBUAH KAPAL
SEBUAH KAPAL
Ada rombongan berlayar dilaut menaiki sebuah kapal. Semua peserta
mendapat tempat duduk sesuai dengan hak masing masing. Ketika kapal terus
berjalan memecah ombak, seorang diantara meraka melobangi tempat duduknya dengan mengunakan kapak. Para penumpang
segera menegur, “apa yang kau lakukan?” “ini tempatku, aku berbuat sesuka
hatiku!” tukas orang itu dengan bersikukuh melanjutkan perbuatanya. Sampai pada
ilustrasi ini, rasulullah SAW memberikan komentar, jika para penumpang berhasil
menghentikan perusakan itu niscaya pelaku akan selamat demikian pula semua
penumpang kapal, tetapi jika tak mampu mencegahnya maka sebuah petaka tidak
hanya menimpa diri sang pelaku kerusakan melainkan juga penumpang lain.
Itu sebuah ilustrasi yang sangat hidup, mengaktifkan dan
membangkitkan kesadaran pendengar dan pembacanya, serta membiasakan dampak
psikologi dan edukatif yang dinamis. Sebuah kapal merupakan sarana untuk
mencapai tujuan. Sedangkan laut menggambarkan tantangan perjalanan yang harus
dilalui.
Para penumpang tidak akan merasakan kenyamanan perjalanan jika
terjadi kerusakan pada kapal yang dinaiki. Apalagi jika kerusakan itu mengancam
keselamatan fisik bahkan jiwa. Seperti pelobangan kapal, jika tidak diketahui
dan diatasi sedini mungkin dengan tepat dapat mengakibatkan kerugian besar.
Bisa dibayangkan luapan air laut mengalir deras dan membanjiri kapal. Bencana
bukan hanya menimpa pelakunya saja melainkan semua pihak yang terkait dengan
sarana itu.
Tidak dipungkiri adanya hak individu seperti hak untuk menikmati
kehidupan dan kebebasan, tetapi harus disadari, orang lain berhak mendapatkan
hal yang sama. Alasan hak individu ataupun kepentingan pribadi tidak serta
merta mendapat tempat dalam lingkup hak dan kepentingan umum. Pergesekan antar
hak dan kepentingan yang berbeda jika tidak cepat disikapi dengan bijak akan
berdampak negatif dalam tatanan kehidupan manusia. Dan pada gilirannya
memorakporandakan ekosistem dan kehidupan sekitar.
Banyak contoh kasus yang dapat dipaparkan disni. Seperti seorang
artis mengekspresikan kreasi seni dalam bentuk dan gaya khsnya dapat bergesekan
dengan kepentingan umum yang ingin menjaga nilai nilai budaya dan seni dalam
bingkai estetika dan etika komunitasnya. Kondisi demikian jika terus dibiarkan
tidak menutup kemungkinan terjadnya pengikisan nilai estetika dan etika yang
pada gilirannya menghancurkan eksistensi budaya dan seni dalam komunitas itu
sendiri. Panggung seni didominasi oleh para dancer keranjingan menopang tarikan
suara sang penyanyi “ngos-ngosan” mengekspresikan lekuk tubuhnya. Hal itu tentu
dapat mengikis dan menggeser eksistensi vokalis yang mengandalkan kemerduan
suara, kekuatan syair dan kesyhaduan irama.
Penhusaha berhak memperoleh keuntungan dari usaha yang dilakukan
sementara konsumen ingin mendapat kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kesemena-menaan pelaku bisnis dalam menentukan harga, memonopoli komoditi, dan
mengekplotasi kekuasaan hanya meresahakn konsumen tetapi merusak tatanan
perdagangan. Bahkan krisis moneter, krisis ekonomi, dan krisis sosial menjadi
badai besar yang ditimbulkan oleh rusaknya sistem perdagangan itu.
Begitu juga politikus berhak melakukan eksperimentasi dan
mengartikulasikan ambisi politiknya dengan statemen atau kebijakan politisnya.
Sementara masyarakat umum berkepentingan untuk merasakan stabilitas dan
keamanan umum. Pernyataan bahwa sebuah negara berdaulat harus ditindak dengan
kekerasan hanya karena tuduhan memiliki
senjata pemusnah masal memicu keresahan umat manusia yang ingin hidup
damai. Terlebih lagi diikuti dengan aksi militer untuk menindaklanjuti
keputusan politik yang kontraversial itu. Tentu akan mewarnai tatanan dunia
dengan kediktatoran dan kebiadaban. Democratie
akan berubah menjadi “demo-crezy” dan “peri-kemanusiaan” berubah menjadi
“peri-kesetanan”.
Dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih umpamanya, kita harus
waspada trhadap tangan tangan kotor yang mencampuradukan kepentingan individu,
keluarga, atau golongan tertentu dengan kepentingan negara (masyarakat umum).
Kewajiban pemerintah dapat ternodai oleh pejabat korup yang menjadikan
kekuasaan sebagai alat pemenuhan ambisi individu atau keluarga atau kelompok
terbatas. Dan kebocoran kas negara atau raibnya aset negara disebabkan aparat
yang menganggap, “ini tempatku, aku berbuat sesuka hatiku!”
Dan yang lebih penting lagi, kapal reformasi jalan terus mengantar
penumpangnya dengan aman dan selamat menuju pulau idaman.
Komentar
Posting Komentar