SAHABAT AYAHKU
SAHABAT AYAHKU,.
Hari ini cuaca sangat terang
sekali ku lihat awan begitu bersemangat membersamai waktu ku, pagi ini aku
mulai aktifitasku dengan mengolah jemari jemariku merangkai sebuah angka angka
yang rumit ketika ibu pimpinan memanggilku untuk mengerjakan sebuah laporan
keuangan yang harus selesai kala itu juga, belum juga sempurna laporanku buat,
ada seorang lelaki paruh baya mengetuk pintu kantorku dan itu ternyata pengawas
yang hendak monitoring hasil kerjaku ini. Baiklah data kusuguhkan beriringan
dengan secangkir kopi yang juga jadi hidangan lengkap dengan jamuan jamuan khas
daerahku. Waktu berjalan sedikit demi sedikit refisi mulai dilayangkan seraya
berkata “laporan ini belum sempurna” pikirku bagaimana bisa sempurna itu ku
kerjakan satu jam yang lalu tapi ya sudahlah baiknya memang demikian.
Itulah potret kecil kehidupan, hal
terkecil yang kita lakukan seyogyanya akan di monitoring oleh sang Maha
Pencipta. Hari ini hari jum’at dan jarum jam pun sudah mulai bergeser ke angka
12 itu pertanda kita harus bergegas menuju masjid untuk menunaikan kewajiban
kita melakukan sholat jum’at berjamaah, dan minggu ini ternyata saya mendapat
jadwal untuk menjadi khotib kali ini tema yang ku sampaikan kepada jamaah
jum’at ialah tentang “cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Ku awali
dengan pujian dan kemudian mengucap sholawat atas nabi serta tak lupa untuk
mengingatkan kepada jamaah khususnya sang khatib berwasiat untuk senantiasa
bertaqwa kepada Allah SWT, sampai akhirnya menyi’arkan tema yang diusung tadi
hingga ditutup dengan doa. Setelah khotib selesai membacakan khutbahnya barulah
kami mendirikan sholat berjamaah dan alhamdulillah berjalan dengan penuh kekhusuan
dan khidmat.
Setelah melaksanakan sholat
jumah berjamaah saya menghadiri ta’lim yang memang sudah rutin dilaksanakan
ba’da jum’at itu, ulsan dalam ta’lim tersebut sangat menyemangati ku dalam hal
kewajiban kita beribadah kajian kitab klasik “khazinatul asror” namanya sungguh
tiada banding senangnya bisa “nyoret kitab” tersebut ya walaupun belum begitu
mampu untuk memahaminya tapi alhamdulillah sudah bersukur bisa nyoret kitabnya
(memaknai kitab). Usai ta’lim di majlis pertemuan minggu ini di tutup dengan
makan bersama ala santri, ya dengan nasi diletakan diatas daun pisang yang
memanjang lengkap dengan lauk dan sambalnya secara bersama mengelilingi daun
tersebut kita larut dengan nuansa kebersamaan yang begitu indah sampai sampai
selera makanpun meningkat. Sajian makanan seperti ini dijamin tak kan pernah
ditemukan di warung makan bahkan dilestoran manapun,.. hehehe.. ya karena ini
adalah ciri khas kesederhanaan membalut kebersamaan ala santri di peloksok yah
bukan santri modern.
Setibanya dirumah selepas
ta’lim, tak lama saya kedatangan tamu seorang lelaki yang wajahnya pernah saya
lihat sekilas tapi masih agak samar sih, Tak kenal betul siapa beliau dan dari
mana asal beliau, yang jelas sekarang beliau sudah ada di depan pintu rumah dan
kamipun persilahkan masuk. “Bapak ada keperluan apa yah” tanyaku pada
beliau, “saya adalah teman ayahmu ketika
diperantauan dulu di malaysia” ujar beliau yang kemudian beliau cerita panjang
lebar tentang bagaimana dulu beliau bersama sama menjalani hidup dalam
perantauan di negri jiran tersebut. Ya ayahku dulu adalah seorang TKI (Tenaga
Kerja Indonesia) yang mencoba mencari pekerjaan di luar negri karena ditanah
kelahirannya sendiri beliau tak mendapat pekerjaan yang tetap, beliau berniat
ingin mengubah penghidupan keluarga lebih baik lagi dengan menempuh mencari
pekerjaan di negri jiran tersebut. Sahabat ayahku ini sangat jelas sekali
menceritakan hal ihwal tentang bagaimana susahnya dulu hidup di negri orang
apalagi ditempuh dengan cara ilegal pastilah akan ada rasa tak nyaman dalam
kesehariannya dihantui rasa cemas yang selalu menghampiri takut tetangkap
aparat dan dibawanya di kepolisian atau kedutaan.
“Dulu kami sempat tinggal
dihutan dengan makan seadaanya disebuah gubug kecil di perkebunan sawit, jauh
dari pemukiman warga hingga ketika ada kebutuhan yang menyangkut dengan
ketersediaan sembako kami sangat sulit sekali”. Beliau mencurahkan kisah
kelamnya bersama ayahku, kami dengan seksama menyimak kisah demi kisah sambil
sedikit mencocokan dengan apa yang pernah diceritakan oleh ayahku dulu ketika
beliau masih hidup. Ayah ku sudah meninggal tujuh tahun lalu karena sakit keras
yang dideritanya, makanya sahabat ayahku ini merasa kehilangan sekali ketika
mendengar kabar bahwa ayah sudah tiada, “banyak sekali jasa beliau waktu itu,
beliau adalah sosok kawan yang setia dan penuh tanggung jawab sampai sampai
beliau rela mengorbankan haknya demi menolong sahabat sahabatnya” sambung
cerita beliau. Dan benar sekali dimata kami sebagai anak anaknya ayah adalah
sosok orang tua yang sempurna yang tak pernah kenal lelah dan penuh tanggung
jawab apalagi soal pendidikan, beliau tidak ingin anak anaknya putus belajar
baik di sekolah maupun di pesantren.
Tak terasa air mata mengalir
dalam lengkung pipi ini tak tahan rasanya mendengar cerita beliau seakan kami
di hadapkan dengan rasa rindu yang berat, terlebih ibuku yang selama ini
berjuang bersama sama dalam menjaga keharmonisan keluarga ini, ibu sama sekali
tak mengeluh walau dihadapkan dengan keadaan yang sesulit apapun. Beliau selalu
berusaha sebisa mungkin, bayangkan berpuluh tahun beliau harus mengambil alih
posisi sebagai kepala rumah tangga sekali gus ibu rumah tangga disaat ayah di
perantauan. Ibu membesarkan kami anaknya tanpa mengeluh dan kami pun membantu
pekerjaan ibu sebisa mungkin dengan menjadi petani dan mengembala kambing. ya
Allah semoga engkau mengampuni dosa dosa ayah dan ibuku dan semoga mendapatkan
tempat terindah disurga-Mu, Amiin ya robbah alamin.
Jumat,
18 Januari 2019
Cibodas
– Tanara Serang
Komentar
Posting Komentar