PEMILIHAN
PRESIDEN
Pemilu
sebagai pengejawantahan sistem demokrasi menjadi masalah krusial yang menyedot
potensi pelbagai pihak. Wakil rakyat di parlemen menguras tenaga, meletakkan
strategi dan aturan main berdemokrasi yang legal, integral dan transparan. Abdi rakyat dilembaga eksekutif menjabarkan
teknis permainan dilapangan. Dengan kaki tangan mereka di institusi yudikatif,
pasang kuda kuda, sekaligus mata, telinga dan hati mengawasi pelaksanaan pesta
demokrasi. Adapuun kuli tinta sibuk menyajikan informasi yang akurat, adil dan
bijak untuk kepentingan publik yang punya gawe.
Memang,
membidik calon presiden yang memiliki kriteria serba ideal dalam tatanan
teoritis maupun pragmatis, tidak mudah. Presiden harus seorang yang sehat
jasmani dan rohani tidak memiliki track
rocord negatif dalam masalah
moral, hukum dan leadership; memiliki sifat amanah, kejujuran dan kecerdasan intelektual;
memiliki integritas yang tinggi, dedikasi dan kapabilitas menyelesaikan krisis multidimensional; dan
mungkin juga patokan religiusitas serta lainya. Akan semakin susah, apabila
yang membidik pun tidak memenuhi syarat dan prasyarat pembidik jitu.
Hampir
hampir kondisi inipun masuk dalam kategori mission
imposible meski 200 juta
peluru dimuntahkan tak satupun mengenai sasaran tembak.
Dalam
koridor pendidikan, seorang ahli bahasa bisa ikut memberikan sumbangsih dalam
pembelajaran politik dan pendewasaan masyarakat. Melalui ungkapan sederhana dan
lugas, pengajaran demokrasi dan syura dapat disampaikan dalam bentuk cerita.
Seperti kisah pemilihan raja di negara rimba raya menggambarkan hingar bingar
kampaye politik dan pesta demokrasi,
hewan sebagai aktornya.
Bermula
dari kematian al-asad raja
hutan, semua warga berkumpul dipelataran istana, menyampaikan belasungkawa
kepada permaisuri dan keluarga. Suasana berkabung menyelimuti rimba raya.
Sedangkan waliyul ahdi
(putera mahkota) masih kecil dan terlalu
naif untuk menduduki singgasana kerajaan.
Usai
para begawan politik dari berbagai golongan berkumpul di balai ruang untuk
menentukan pengganti raja. Para jawara sepakat untuk tidak membai’at putera
mahkota dan memberi kesempatan kepada al-syibl (anak singa) itu hingga dewasa dan mampu
mengikuti jejak sang bapak yang berwibawa.
Pertemuan
dimulai. Pemuka al-fahd
(macan tutul) berpidato. “ hadirin terhormat, izinkan saya menyampaikan bahwa
sayalah yang paling berhak menduduki singgasana kerajaan, karena karakter dan
kepribadianku sangat mirip dengan mendiang.”
Mendengar
pernyataan itu pemimpin ad-dubb (badak) menyanggah “jika itu alasanya maka sebenarnya aku
lebih berhak berkuasa dari pada sang raja hutan sendiri, kalah aku tidak kalah
kuat, berani dan buas. Dan satu kelebihanku yang tidak dimilikinya adalah
kelihaian memanjat pohon.”
Pembesar
al-fill (gajah) mendinginkan ketegangan, lalu terusik
untuk melakukan diplomasi, “saya serahkan kebebasan kepada tuan tuan mulia
untuk menentukan pilihan. Adakah yang mampu mengungkuli kehebatan sejenisku
dalam postur tubuh, kekuatan sekaligus keberanian?”
Al-hishan (kuda) maju selangkah menginterupsi, “saya
harap, jangan lupakan kedalaman berfikir dan karakter fisik golonganku.” Al-tsa’lab (serigala) segera mengemukakan apologi,
“sudah, cukup ! siapakah diantara kita paling banyak bergerak dan berlari?”
Raja
kera membusungkan dada dan berpidato, “siapapun pilihan anda pasti tidak ada
yang lebih pandai dan lebih baik dari pada diriku, jika kalian memilihku,
sungguh aku mempuni dalam menghibur rakyatku. Satu lagi yang mungkin
disepelekan, kesetaraanku dengan manusia yang semuanya tahu adalah tuan
sekalian ciptaan.”
Al-babgha bergelitik mendengar pengakuan al-qird (kera) itu lalu menyanggah, “jika anda
menjustifikasi kemiripan anda dengan manusia karena sikap solah bowo dan gaya
yang lucu, disamping normamu yang picisan itu maka saya membanggakan kelihaian
berbicara karana inilah bukti logis seseorang yang punya nalar.”
“Tunggu
dulu!” sahut kera. “kamu meniru bicaranya tanpa tahu maksudnya,” lanjut si kera
menjawab sang beo. Perdebatan kedua plagiator hak natural manusia tersebut
justru memecah ketegangan. Ruang sidang digaduhkan oleh gelak tawa hadirin.
Setelah musyawaroh terbuka, forum memutuskan pilihan pada al-fahd. rekomendasi kepemimpinan baru di negara
binatang ini didasarkan atas spirit reformasi. Mengingat krisis kepemimpinan
saat itu, menimbang dan memperhatikan sifat bashtah calon pemimpin meliputi kedewasaan fisik,
psikis, sosial, moral, emosional, dan nalar instingtif. Akhirnya semua warga
berpesta pora menyambut presiden baru hasil pilihan langsung yang jujur, adil,
terbuka dan bijaksana. Amanat kepemimpinan segera direalisasikan degan dukungan
dari segenap lapisan masyarakat. Tidak ada yang ngambek sebab di intimidasi.
Apalagi mbalelo karena harus money politic, dicurangi atau ditipu.
Cerita
selesai, penulis meninggakan poin poin penting untuk dicermati. Umpamanya, kata
“bashtah” yang termasuk kata kunci dalam kriteria raja baru tersebut. Ternyata
dijumpai dalam Qur’an 2;247, mengisyaratkan sebagian alasan dipilihnya thalut
sebagai pemimpin bangsa saat menghadapi krisis internal maupun eksternal
menghadapi interval dan serangan bertubi tubi dari raja jalud beserta kaumnya.
Tentu ada nilai filosofis dibalik semua itu.

Komentar
Posting Komentar