PAILIT
Oleh Abdillah Noor Ridlo
Qutaibah
bin Sa’id (w.240.H) menceritakan pola pengejaran Rasulullah SAW tentang
menghindari kebangkrutan total. Perawi hadits dari generasi tabi’i al-tabi’in
itu menyampaikan kepada imam muslim (240-241 H) bagaimana abdurrahman bin
shakhr (Abu Hurairah; w.57H) Belajarn agama dari pemimpin manusia sejagad.
Betapa menarik cara yang dipakai rasulullah dalam menyampaikan garis garis
haluan hidup di dunia dan kaitannya dengan kehidupan akhirat.
Rasulullah
SAW bertanya kepada para sahabat “ tahukah kalian apakah orang pailit itu? “
mereka menjawab “ orang pailit diantara kami ialah yang tidak memiliki uang dan
harta benda.” Resulullah Saw menerima jawaban tersebut sebagai pengantar menuju
inti risalah yang hendak disampaikan. Maka, kemudian rasulullah menjelaskan,
sesungguhnya orang pailit dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat
dengan membawa amalah shalat, pusa, zakat, pada waktu yang sama ia datang
membawa cercaan, tuduhan, zina (qodzaf). Makanan dari harta orang lain, tetesan
darah jiwa orang lain, dan perbuatan menyakiti
(memukul) orang lain. (maka orang
itu akan dihisab) perbuatan buruk ini diambilkan balasananya dari ganjaran
kebaikan ini, dan perbuatan buruk yang ini (lagi) diambilkan dari kebaikan ini,
(dan demikian seterusnya). Jika kebaikannya telah habis sebelum semua
perhitungan keburukan usai, maka diambillah (dosa) kesalahannya lalu dilempar
kepadanya kemudian diceburkan ke dalam neraka.
Pengajaran
yang sangat memukau dari sisi materi (Al-Maddah) dan metode (At-Thariqoh)
sekaligus. Rasulullah SAW memperhatikan kesiapan mental dan intelektual audience
yang diajak bicara. Proses penyampaiannya pun mencermati aspek aspek penting
dalam cara berfikir. Proses berfikir otak kiri yang bersifat logis, sekuensial,
linier, dan rasional dirangsang dengan benar. otak kanan yang memiliki ciri
ciri acak, tidak teratur, intuitif, dan
holistik juga disetrum agar menangkap sifat sifat nonverbal. Seperti perasaan
dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran seuatu
benda atau orang), kesadaran spesial, kreativitas, visualisasi, dan lainnya.
Jika kedua belah otak itu dimanfaatkan dengan seimbang maka akan menimbulkan
keseimbangan seorang pemiliknya dalam setiap aspek kehidupannya.
Maslah
pailit (kebangkrutan) sering berkaitan dengan dunia bisnis yang menjadi
spesifikasi otak kiri. Orang yang termasuk kategori otak kiri dan melakukan
upaya tertentu untuk memasukan beberapa aktivis otak kanan dalam hidupnya, akan
menghasilkan ketidakseimbangan yang dapat mengakibatkan stres dan kesehatan
mental serta fisik yang buruk.
Sebagaimana
pembukaan administrasi keuangan, kolom debet dan kredit diisi rincian jenis
usaha dan keterangan keterangan yang diperlukan. Untuk mengetahi saldo,
dilakukan pemjumlahan yaitu mengurangi
jumlah keseluruhan pada lajur nndebetn dengan jumlah keseluruhan pada lajur
kredit. Jika total saldo terakhir dari hasil usaha manusia sampai batas tutup
usianya menunjukan nilai positif maka dikategorikan sukses atau unutung. Adapun
jika mengindikasikan nilai negatif disebut ‘muflis’ , pailit atau bangkrut.
Sebagai konsekuansi orang pailit atau gulung tikar dalam usahanya selama
didunia, maka diakhirat ia akan digulung dengan “tikar” api neraka.
Tidakkah
cara penghitungan seperti itu mudah dipahami atau diingat ?
Visualisasi
sederhana yaitu pahala kebaikan terkikis oleh dosa keburukan sangat mudah
dicerna logika. Sekarang perhatikan sejenak pada lajur debet, dicontohkan
beberapa input berupa shalat, puasa, dan dzikir. Conoth pekerjaan tersebut
diambil dari kelompok tugas pokok yang wajib dipenuhi seseorang muslim sebagai
modal dasar dalam perdagangannya dikehidupan dunia. Modal itu semestinya
diinvestasikan dengan meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Apalagi menambah
modal dengan melakukan ibadah ibadah wajib dan sunnah sebanyak mungkin.
Disisi
lain, menutup rapat pintu pengikisan modal dengan menghindari larangan islam
berkaitan dengan akidah, syariah, maupun akhlak. Menghindari perbuatan syirik,
riya’, takabur, dan seterusnya, karena semuanya menyebabkan kepailitan. Tidak
melakukan zina, mencuri, risywah, qadzaf, riba, korpusi, membunuh, dan
seterusnya, yang menyebabkan kepailitan. Menjauhkan diri dari ghibah, hasad,
menyakiti dengan perkataan dan perbuatan, dan sifat madzmumah lainya. Karena
itupun menyebabkan kepailitan.
Jika
seluruhnya dapat diusahakan dengan baik maka sukseslah tijarohnya. Karena Allah
membelinya dengan surga. Sebaliknya, jika gagal, maka pailit adalah akibat yang tidak bisa dihindari dan neraka sebagai
upahnya.
Learning
process yang dibimbing langsung oleh
“guru besar” Nabi Muhammad SAW membekas di benak peserta didiknya. Pelajaran
kebaikan meresap diranah sensorik, berproses kebidang motorik, dan mendorong
psikomotorik mengapresiasikan kreasi dan
perbuatan terpuji dengan kualitas dan kuantitas yang handal.
Demikianlah
sebagai konklusi dari pengajaran terminologi pailit. Maka setiap orang;
bikokrat, politikus; hakim, advokat, polisi, petani, pedagang, guru, ustdz, dan
profesi apapunn yang disandang, selalu intropeksi dan menghindari kebangkrutan
total. Wallahu Al-Musta’an.
Komentar
Posting Komentar