AUTO BIOGRAFI
Bismillahirrohmanirohim...
Assalamu’alaikum wr wb.
Perkenalkan namaku Nawasi lahir di Tanara,
30 Juli 1989. Tempat dimana masa masa kecilku habiskan bersama orang orang yang
sangat berarti dalam kehidupanku. Tanara adalah salah satu tempat di Kabupaten
Serang Propinsi Banten. Tempat ini juga
menjadi terkenal dengan wasilah lahirnya sang penulis ulung, pengarang
kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan ilmu ilmu fiqh dunia beliau adalah Syeh
Nawawi Tanara Albantany. Mudah mudahan saya mendapat pencerahan dari beliau
untuk terus membuat karya karya yang dapat dimanfaatkan di masa mendatang,
amin.
Saya belajar dari jenjang SD di SDN
Cibodas Kecamatan Tanara sejak 1996 – 2001 kemudian meneruskan ke tingkat SLTP
di MTs Mathla’ul Falah Lempuyang sejak
2001-2003 dan masih diberi kesempatan lagi ke jenjang SLTA di MA Mathlaul Falah
Lempuyang sejak 2004-2007. Setelah lulus dari SLTA tersebut saya pernah menimba
ilmu agama di pesantren di Pondok Pesantren Ki Chili Gelebeg di Cibodas sampai
akhirnya melanjutkan kuliyah di Institut Agama Islam Banten (IAIB) di Kabupaten
Serang sejak 2008-2013. Semasa kuliyah saya pernah bergelut dengan dunia
organisasi salah satunya adalah Lingkar Studi Islam, Badan Eksekutif Mahasiswa,
Gerakan Mahasiswa Pembebasan, dan PerMaTa (Pesantren Mahahsiswa Alam Terbuka)
Birrul Waalidain.
Saya dibesarkan dari keluarga sederhana
ayah saya bernama Syadeli Hasan beliau adalah sosok panutan yang ulung bagi
kami dan ibu saya bernama Mu’minah seorang wanita yang gigih tanpa kenal lelah
dengan jiwa sosial budayanya yang tinggi hingga masyarakat sekitar banyak
merasa terbantu atas keahlian beliau dibidang kesehatan, yah walaupun beliau
bukan seorang dokter atau bidana desa.
Kami enam bersaudara yang hidup rukun
dalam bingkai keluarga yang sederhana, saling mengasihi satu sama lain dan
saling bergotong royong dalam hal apapun itulah pelajaran pertama yang dapat
saya ambil dari keluargaku. Kesederhanaan kami tidaklah membuat cita cita saya
rendah justru orang tua kami mendorong agar kelak mendapati anak anaknya yang
sukses dibidangnya masing masing, hal yang paling penting dalam hidup adalah
“kejujuran” ucapan ini merupakan suatu nasihat berharga dari ayah kami untuk
modal mengharungi kehidupan dimasa mendatang.
Ketika saya berumur 6 tahun, kami sudah ditinggalkan
oleh ayah yang hendak hidup merantau ke negeri seberang, tentulah hal itupun
menjadi pelajaran terberat saya untuk mencoba mempelajari rasa tanggung jawab
sebagai seorang laki laki dalam urusan rumah tangga, karena segala hal yang
biasanya dikerjakan oleh orang dewasa laki laki harus dapat saya kerjakan.
Tetapi kami tidak sendirian untunglah kami sudah dibekali dengan sikap saling
mengasihi agar segala hal yang akan dikerjakan menjadi ringan.
Ketika kecil kami sangat senang membantu
segala pekerjaan orang tua, salah satunya adalah mengembala kambing, ya,.. kami
kadang keasyikan bermain bersama teman teman sambil mengembala kambing di
padang rumput, tapi kadang kami harus berlari lari mengejar kambing kambing
kami yang lepas dari tali ikatannya, selain mengembala saya juga sering
membantu ayah di sawah mulai dari membajak sawah hingga menanam sampai memanen
itu adalah sauatu hal yang sangat menyenangkan, kenapa itu anggap menyenangkan
karena kami bekerja dari hati nurani iklas membantu tanpa harus di paksa dan
disuruh oleh orang tua. Namun sayangnya sawah-sawah ayah dari tahun ke tahun
berkurang karena harus dijual untuk biaya biaya yang tak terduga.
Pekerjaan ayah saya berpindah dari
seorang petani hingga ke buruh, ya buruh pekerja kasar yang tidak mendapat
kesempatan bekerja di tanah kelahirannya sendiri sehingga beliau harus ke negri
jiran mengadu nasib demi mencukupi kehidupan kami di desa, hal itu beliau lakukan selama puluhan tahun,
bayangkan sejak saya belum masuk sekolah dasar hingga saya masuk perguruan
tinggi.
Ketika saya duduk di semester empat di
salah satu perguruan tinggi di tempat saya barulah beliau pulang untuk
menghabiskan hari tuanya bersama keluarga dirumah, itu pun beliau sudah mulai sakit sakitan. Hingga beliau mengembuskan nafas terakhirnya
ketika saya sedang dalam proses studi akhir pengenalan lapangan atau biasa
disebut dengan KKN (Kuliyah Kerja Nyata) Ketika itu tahun 2012. Hal itu pun
membuat saya sedih karena tidak bisa mempersembahkan gelar yang saya
perjuangkan kepada ayahku yang selama ini ia nanti nantikan. Namun amanah yang
saya pikul ini mudah mudahan bisa saya jalani untuk membuktikan bahwa saya
sudah menjadi diri sendiri. Di desa saya tinggal jarang sekali teman-teman
sebaya saya bisa menamatkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi ya
walaupun hanya perguruan tinggi swasta dengan jurusan seadanya, dan hal itulah
yang menjadi suatu kebanggaan bagi orang tua saya khususnya ibu saya yang masih
ada saat ini yang selalu menemani,mendoakan, dan membantu saya dalam segala
hal.
Sejak kuliyah saya sudah mencoba
mengabdikan diri di salah satu lembaga pendidikan swasta untuk menjadi seorang
pendidik dan itu saya lakoni hingga saat ini, dan dari situlah saya merasa
menjadi orang yang berguna walaupun hanya bisa mengajari anaka-anak seusia SD
di Yayasan Manna Wa Salwaa Banten, tapi cukuplah bagi saya untuk menyalurkan
segala hal yang didapat dari bangku kuliyah itu.
Komentar
Posting Komentar