POHON RPDUKTIF
POHON PRODUKTIF
Kaisar
Anu Syerwan , seroang raja Sasnia, dikenal sebagai pemimpin reformis, arif, dan
bijak. Saat safari ke pedesaan ia melihat petani tua sedang menanam pohon
zaitun. Ia tertegun. “ Kenapa orang setua itu berbuat demikian, bukankah pohon
zaitun itu tak cepat berbuah sedangkan pak tani sudah berusia senja ?”
pikirnya.
Kaisar
menghampiri dan menyapanya lalu berkata “ saya kira bukan saatnya bapak menanam
pohon zaitun karena pertumbuhan dan produkvitasnya lamban sedang usiamu sudah
lanjut” dengan tenang petani menjawab, “wahai paduka raja, orang sebelum kita
telah menanam dan kita yang menuai
hasilnya, maka kita tanam agar dinikmati generasi berikutnya. “ zih” ucap raja
dengan spontan. Sesuai kebiasaan, jika raja mengatakan zih (hebat) kepada seseorang, maka orn tua itu akan dihadiahi sejumlah uang,
maka hak itupun diberikan pembantu raja yang menyertainya kepada petani dengan
segera.
“Wahai
raja, bagaimana paduka menyaksikan langsung tanaman baginda, betapa cepat ia
menghasilkan.” Kedua kalinya raja mengucap “zih” dan diberikan hadiah
berikutnya secara kontan.
“Wahai
raja, kebanyakan pohon menghasilkan sekali dalam setahun sedang pohonku ini
sudah dua kali dalam sekejap mata,” tutur petani. Dan ketiga kalinya spontan
mengatakan “zih” sehingga hadiah
langsung diberikan.
Sampai
pelajaran ini kaisar Anu Syerwan mengajak rombongan pulang “ andai terus disini niscaya kas kita tak
akan cukup untuk imbalan bagi pak tani” tandasnya.
Memang,
zih pak tani hebat gagasan dan kreativitasmu ! kekayaan bukan isapan jempol
belaka. pohon yang baru ditanam sudah menghasilkan tiga kali panenan. Tidak
harus menunggu setahun, lima tahun, sepuluh tahun, 20 bahkan lebih dari 30
tahun. Anda patut dapat acungan jempol dan dan seyogyanya diteladani dalam
pikiran, bersikap, bertindak dan bertanggung jawab. Tidak terbatas pada
generasi sendiri tetapi negerasi mendatang bahkan hingga kini, apalagi generasi
di negri ini.
Anda
sempat tinggal di negri subur ini, aku yakin petani agresif itu tak menebangi
pohon atau menggunduli hutan seenaknya, apalagi untuk kepentingan perut
sendiri. Dan juga yakin tidak menanam pohon zaitun disini. Andai tetap saja
zaitun itu dipilih niscaya cemoohan yang dituai. Yang jelas, petani kreatif itu
tak kehabisan ide prospektif dan aksi produktif
untuk anak bangsa dan negara .
telah terbukti melalui dialog lugas dan sikap tegas dihadapan penguasa nomor
satu negara teokrasi persia adidaya saat itu.
Lantas
bagaimana andai Anu Syerwan bertanding ke negeri ini? Mungkin, rja raja bumi
pertiwi terpengarah, kaisar sehebat itu harus berjalan kaki menyusuri kampung
dan menyantuni wong cilik. Bahkan Bizantium ikut respect, kenapa kini
tunduk dihadapan petani tua itu ? kaisar
mentransfer logika pemikiran petani; paduka terhormat, kita datang dari rakyat
maka kita pergi untuk rakyat.
Bagaimana
anda menyaksikan sendiri wong cilik ku berpikir besar bahkan lebi besar dari
yang menganggap besar. Aku menghargai yang berharga, property harus dibagi
secara propesional dan uang negara tak mudah dihamburkan begitu saja.” “oh ya!”
Pelajaran
kaisar reformis tidak cukup sampai disini. Ia masih iingin mereformasi
mainstream yang menjadikan rakyat sebagai ferobak untuk mencapai kekuasaan
yangselanjutnya dimuati sampah, tinta dan limbah feodalisme. Ia mentransfer
nation building yang dibarengi dengan charackeetr building dengan
moral attitude dan mental skill yang jitu. Ia meneladankan komunikasi timbal
balik yang dinamis antara pemimpin dan yang dipimpin demi stabilitas
pembangunan bangsa. Dengan begitu, terjalin kerja sama sinergis sesuai peran
dan posisi masing masing . maka inilah pohon prestatif lagi produktif . saat
tinggalkan kedudukan, orang lain dapata menikmati hasilnya bukan menuai
petakanya. Ibarat gajah mati meninggalkan
gading, harimau mati meninggalkan belang, maka manusia mati meninggalkan
prestasi dan jasa bukan “ gading belang” nya “oh ya!”
Oh
ya, kaisar belum tahu kebiasaan bahwa “oh ya” punya kemungkinan interpretasi
ironis atau konotasi sinis berarti “bisa tidak”? jika kemungkinan ini terjadi
pasti tidak meraup pujian apalagi hadiah tetapi cibiran bahkan hujatan dan
tuduhan subversif, menyinggung raja atau makar pembunuhan. Ditambah lagi raja
raja disini tidak bisa mengeluarkan anggaran negara apalagi kocek pribadi untuk kepentingan seprti itu. “oh ya?”
Jauh
dari su’u al-dzanni dan negative thinking, sesungguhnya representasi kaisar dan
petani tua diibuthkan bangsa, bahkan sangat mendesak melihat tuntunan
reformasipada situasi dan kondisi saat ini.
Tercermin
dari sekelumit kisah , sosok pemimpin elegan dan ideal. Prestise dibidan
militer, diplomasi dan politik global tidak mengabaikan langkah langkah
prestatif ditingkat lokal dalam membina sumber daya manusia dari pelbagai
lapisan tanpa ada unsur diskriminasi. Kalangan bawah atau rakyat biasa bukan komoditas
untuk diperjual belikan demi kepentingan
sesaat. Membangun komunikasi massa secara aktif dan concern terhadap
kemaslahatan mereka justru merupakan tugas dan kewajiban pada prioritas utama.
Prestise pemimpin dan kepemimpinan semakin meningkat bersamaan meningkatnya jumlah prestasi prestasi yang dilakukan
melalui personal approach, mekanisme dan sistem yang mapan.
Pada
saat yang sama muncul figur lain menampilkan kepribadian bersahaja, simpatik,
penuh dedikasi, cita cita mulia, keikhlasan beramal dan berkorban dalam
partisipasi sosial, e,konomi dan politik serta realisasi cita cita. Zih, zih,
zih!
Tidakkah
anda melihat demikian ? bangkitlah!
Komentar
Posting Komentar